Thursday 18 February 2010

Mandarin





Makanan Khas Tahun Baru Imlek


Cara merayakan imlek tergantung dari ethnic group dan selalu berlainan. Ini mungkin juga disebabkan oleh perbedaan musim atau cuaca pada hari tersebut dan cara mereka makan.

Community yang asal dari northern provincies biasanya merayakan dgn bersama - bersama membikin dumpling (chiao che) - semacam pangsit yang berisi daging dan sayuran yang cara bungkusnya kaya duit perak jaman dulu.
Biasanya semalam belum newyear keluarga berkumpul dan bersama - sama membikin kulit dumpling ini dan membungkusnya. Didalam satu dari ratusan yang dibikin - diberikan coin perak. Yang mendapat dumpling ini tahun yang akn datang katanya bakal mendapat rejeki.
Biasanya makan dumpling ini adalah pada midnight tepat pada detik tahun baru.



Ayam atau bebek yang utuh (whole dgn segala bagian dari darah etc ada) sebagai synbol untuk udara,
Ikan sebagi simbol dari air - Ini bisa ikan emas ikan bandeng atau ikan salmon ( ikan pai tu di daerah singapore) semacam ikan yang bulat dan yang dapat hidup dilut dan disungai.,
Kepala babi sebagai simbol dari tanah

Untuk community yang asal dari Kwangtung - banyak yang pada hari imlek ini makan vegetarian dan makan semacam campuran dari bahan2 kering yang bersimbol sesuatu. Mereka menyebutnya masakan fachai. Isinya 8 macam sayuran kering:
Lilly flower (chingchen), jamur kuping yang hitam (mu-erl), kembang tahu (Fu chuk), So-oen (glassy noodles) Gingko beans, sea-moss(fa chai), dried oyster, bambu rebung
Semua ini direbus sampai empuk dan diberikan sauce dari plum dan oyster . Semua bahan2 kurang lebih merupakan semacam simbol rejeki, musim semi, new life etc.

Tradisi Bunga Mei Hua

Di negeri Tiongkok dikenal terdapat 4 musim, yaitu musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Tahun baru Imlek datang bersamaan dengan musim semi, maka dulu dikenal dengan istilah Festival Musim Semi (Kuo Chun Ciek). Festival ini berlangsung sangat meriah dan pernah dijadikan agenda tahunan oleh pemerintah Cina.
Bunga Mei Hwa adalah pertanda datangnya musim semi. Itulah sebabnya terdapat tradisi di masyarakat Tionghoa, menggunakan bunga ini sebagai hiasan di rumah ketika Imlek tiba, sehingga terkesan suasana yang sejuk, nyaman dan indah. Tidak ada makna spiritual dalam kehadiran bunga Mei Hwa tersebut.

Bunga - bunga juga penting untuk hari imlek ini. Kalau orang vietnam perlu semacam cherry blossom yang tepat pada hari itu berbunga merah. Haraga sebatang dari bunga ini diSF sekarang bisa $25-40 dollar. Orang kwantung sekarang ingin kembang gladiola yang merah - sebab bunga ini mekarnya mulai dari bawah naik keatas (simbolik bagus) Kembang narcissus yang putih dan semacam chrysantemum (cheu hua) yang berwarna kuning juga serng dipakai. Sekarang ini sebagai penggantinya juga kembang tulip dipakai.


Tradisi Jeruk Bali

Buah jeruk bali yang disajikan setiap hari raya Imlek mempunyai kisah dan makna tersendiri. Dalam bahasa Tionghoa, jeruk bali disebut Jik yang juga berarti selamat. Maka timbullah ungkapan MandarinTah Jik, artinya besar selamat atau amat selamat.


Buah jeruk bali biasanya diletakkan di atas meja ruang tamu. Buah yang dipilih terutama yang sepasang atau lebih, terutama yang memiliki daun di dekat buahnya. Jeruk bali tersebut ditempeli kertas merah dan juga disajikan di meja altar dekat tempat sembahyang sampai hari Cap Go Meh.


Tradisi Kue Keranjang

Kueh Keranjang atau Nian Gao atau lebih sering disebut kue kranjang (tii
kwee) adalah kue wajib imlek. Kue ini mendapat nama dari cetakannya yang
terbuat dari keranjang. Nian sendiri berati tahun dan Gao berarti kue dan
juga terdengar seperti kata tinggi, oleh sebab itu kue keranjang sering
disusun tinggi atau bertingkat.

Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, yang memberikan makna
peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu banyaknya
atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah.
Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di
bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak
dan mekar seperti kue mangkok.

Kue-kue yang disajikan pada hari raya tahun baru Imlek pada umumnya ada jauh
lebih manis daripada biasanya, sebab dengan demikian diharapkan di tahun
mendatang jalan hidup kita bisa menjadi lebih manis lagi daripada di
tahun-tahun sebelumnya.

Menurut kepercayaan tionghoa zaman dahulu, rakyat Tiongkok percaya bahwa anglo dalam dapur di setiap rumah didiami oleh Dewa Tungku, dewa yang dikirim oleh Yik Huang Shang Ti (Raja Surga) untuk mengawasi setiap rumah dalam menyediakan masakan setiap hari.Kue Keranjang Setiap tanggal 24 bulan 12 Imlek (enam hari sebelum pergantian tahun), Dewa Tungku akan pulang ke Surga untuk melaporkan tugasnya. Maka untuk menghindarkan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi rakyat, timbullah gagasan untuk menyediakan hidangan yang menyenangkan Dewa Tungku. Seluruh warga kemudian menyediakan dodol manis yang disajikan dalam keranjang, disebut Kue Keranjang.
Kue Keranjang berbentuk bulat, mengandung makna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang. Kue Keranjang disajikan di depan altar atau di dekat tempat sembahyang di rumah.
Sekarang ini banyak yang membicarakan tradisi - tradisi yang dipakai oleh chinese community untuk merayakan tahun baru.

Kue wajib lainnya adalah kue lapis legit (spekkoek) sebagai pelambang
datangnya rezeki yang berlapis-lapis dan saling tumpang tindih di tahun yang
akan datang, sehingga dengan demikian bisa dapat merasakan kehidupan yang
lebih lebih manis dan lebih legit lagi. Kue lapis legit yang sering juga
disebut sebagai "Thousand Layer Cake", walaupun memang benar menggunakan
mentega dari Belanda (roomboter), tetapi orang-orang di Belanda nya sendiri,
mereka tidak mengenal kue itu. Mungkin perkataan "spek" ini diambil dari
bahasa Belanda yang berarti lapisan lemak babi (bacon : bahasa Inggris), karena
bentuknya mirip spek.

Buah-buahan wajib yang sudah pasti adalah pisang raja atau pisang mas yang
melambangkan mas atau kemakmuran. Begitu juga dengan jeruk kuning dan
diusahakan yang ada daunnya sebab ini melambangkan kemakmuran yang akan
selalu tumbuh terus. Sedangkan tebu melambangkan kehidupan manis yang
panjang. Walaupun demikian harus dihindari buah - buahan yang berduri seperti
salak atau durian, terkecuali nanas karena namanya Wang Li yang ucapannya
mirip dengan kata Wang (berjaya) disamping itu nanas juga bisa dilambangkan
sebagai mahkota raja.

Selain buah - buahan dianjurkan juga untuk makan manisan seperti kolang kaling
agar pikiran bisa menjadi jernih terus dan juga agar - agar yang sebaiknya
disajikan dalam bentuk bintang agar kehidupan maupun jabatannya dimasa yang
akan datang bisa menjadi lebih terang dan bersinar.

Selain makanan yang wajib disajikan ada juga makanan yang sebaiknya
dihindari atau dipantangkan seperti bubur, sebab ini melambangkan kemiskinan
atau kesusahan. Maklum pada saat musim kelaparan di Tiongkok mereka tidak
bisa menyajikan nasi. Disamping itu makanan-makanan yang berasa pahit
seperti pare dan fumak sebaiknya ini juga dihindari sebab makanan tersebut
melambangkan kepahitan hidup.


Saat merayakan tahun baru Imlek kebanyakan orang Tionghoa membuat Samseng
(artinya: tiga macam daging kurban) yang terdiri dari tiga jenis macam
binatang yaitu ikan bandeng, ayam betina, dan daging babi.

Tujuan dibuatnya Samseng tersebut adalah sebagai perlambang sifat dari
hewan; agar kita sebagai manusia tidak meniru sifat yang dilakukan oleh
ketiga jenis binatang tersebut. Babi pemalas, karena kerjanya hanya makan
dan tidur. Ayam yang suka pindah-pindah pada saat makan, sehinggga ketika
makanan yang ada didepan matanya belum habis pun sudah mau pindah lagi ke
tempat lain atau melambangkan sifat yang serakah. Lain halnya dengan ikan
bandeng, karena kulit ikan itu bersisik maka ini bisa diumpamakan seperti
seekor ular, dengan pengertian agar kita jangan berlaku jahat pada orang
lain seperti ular.
Khusus umat buddha tionghoa persembahan Samseng tidak dianjurkan dalam sembayang tahun Imlek biasanya diganti dengan buah -buahan. Karena persembahan berbentuk hewan dilarang dalam agama Buddha (sebagai lobha atau dosa). Sehingga Masyarakat Tionghoa beragama Budhis tidak menggunakan hewan sebagai korban persembahan.

Ikan

ada juga yang menghubungkan ikan sebagai perlambang rezeki, karena
dalam logat Mandarin kata "ikan" sama bunyinya dengan kata "yu" yang berarti
rezeki oleh sebab itulah dibanyak restoran Tionghoa terutama di Holland
selalu ada aquarium ikan ikan mas yang melambangkan rejeki yang dilumuri
dengan emas yang berjibun.
Atau ikan gurame sebagai lambang rejeki yang sering digunakan oleh masyarakat tionghoa terutama pada malam tahun baru imlek sebagai makanan utama mereka. dengan tujuan agar dalam satu tahun kedepan rejeki mudah didapat.


Mie

Disamping itu seperti juga pada saat merayakan pesta HUT; mie juga merupakan
satu makanan wajib, sebab mie itu melambangkan panjang umur terutama Siu Mie
/ Shou Mian : "Mie pajang umur". Mie ini harus disajikan tanpa putus dari
ujung awal ke ujung akhir jadi benar-benar merupakan satu utaian mie, sebab
dengan demikian diharapkan umur kita pun tidak akan putus - putusnya alias manjang
terus. Walaupun demikian pada saat mau disantap mie tersebut boleh dipotong,
maklum apabila saatnya tiba toh akhirnya usia manusia tersebut akan putus
juga.

No comments:

Post a Comment